- Jambo Aye, Batang Toru, Batang Anai: Tiga Wajah Bencana, Satu Krisis DAS
- Penyebab Bencana Hidrometeorologi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh (Seri-1)
- Kondisi Hutan di Daerah Hulu DAS (Seri-2)
- Perubahan Penggunaan Lahan di Daerah Hulu (Seri-3)
- Bencana November 2025 dalam Konteks Sejarah (Seri-4)
Bencana November 2025 dalam Konteks Sejarah (Seri-4)
Kejadian banjir bandang dan longsor dahsyat di Sumatera bukan pertama kali ini terjadi. Pulau Sumatera memiliki sejarah panjang dilanda bencana hidrometeorologi sejak era kolonial hingga pasca-kemerdekaan. Namun, insiden akhir November 2025 menonjol sebagai salah satu yang terluas dan terdahsyat dalam beberapa dekade terakhir. Untuk memahami konteksnya, penting melihat beberapa bencana besar sebelumnya dan persamaan penyebabnya.
Dalam catatan sejarah, banjir bandang besar pernah terjadi di Sumatera Barat pada tahun 1978 dan 1979. Pada 1978, banjir bandang melanda Solok Selatan; disusul 1979 banjir bandang terjadi di lereng Gunung Marapi (Tanah Datar) yang dikenal dengan sebutan galodo. Memasuki era modern, salah satu bencana banjir bandang paling mematikan di Sumatera adalah Tragedi Banjir Bandang Bahorok 2003 di Kab. Langkat, Sumatera Utara. Banjir bandang Bahorok (2 November 2003) menghancurkan kawasan wisata Bukit Lawang di tepi Taman Nasional Gunung Leuser dan menelan lebih dari 100 korban jiwa. Penyebab utamanya diidentifikasi karena kerusakan hutan akibat pembalakan liar besar-besaran di hulu Sungai Bahorok dalam kawasan TN Gunung Leuser. Peristiwa Bahorok 2003 ini sangat mirip polanya dengan banjir Tapanuli 2025: hujan lebat di pegunungan Leuser mengguyur area hutan yang sudah gundul oleh illegal logging, sehingga air bah bercampur kayu gelondongan menerjang permukiman dan menewaskan banyak orang. Tragedi tersebut menjadi pelajaran nasional tentang bahaya deforestasi, meskipun sayangnya deforestasi terus berlangsung di tempat lain.
Di Aceh, bencana banjir bandang besar pernah terjadi 30 Agustus 2006 di Kabupaten Aceh Selatan. Tiga kecamatan (Meukek, Labuhan Haji Timur, Kluet Tengah) dilanda banjir bandang yang menghancurkan ribuan rumah dan infrastruktur. Beruntung tidak ada korban jiwa saat itu, tetapi sekitar 5.000 penduduk terpaksa mengungsi. Banjir Aceh 2006 ini juga dipicu kombinasi hujan ekstrem dan kerusakan hutan di Pegunungan Bukit Barisan bagian Aceh Selatan. Sedimentasi sungai Kluet akibat erosi tanah pasca-pembalakan liar disebut turut memperburuk luapan air.
Dalam kurun satu dekade terakhir (2010-an), Sumatera masih kerap dilanda banjir bandang setiap tahun. Sebagai contoh, tahun 2017 banjir bandang besar melanda Kota Padang Sidempuan, Sumut, akibat luapan Sungai Batang Ayumi setelah hujan deras di Tapanuli Selatan, menewaskan 5 orang dan menghancurkan puluhan rumah. Lalu tahun 2018, terjadi serangkaian banjir bandang di Mandailing Natal dan Sibolga (Sumut) serta Tanah Datar dan Pasaman Barat (Sumbar) secara hampir bersamaan. Banjir 2018 tersebut dipicu hujan deras berkepanjangan dan menelan banyak korban jiwa, termasuk belasan anak sekolah yang terseret banjir di Mandailing Natal (suatu insiden tragis yang banyak diberitakan). Ciri khas banjir 2018 itu sama, air bah membawa batu besar dan gelondongan kayu, merusak puluhan rumah dan fasilitas umum lagi-lagi menandakan peran deforestasi dalam memperbesar daya rusak banjir. Provinsi lain di Sumatera, seperti Bengkulu (2019) dan Sumbar (2020) juga mengalami banjir besar dengan korban. Banjir bandang Bengkulu April 2019 menerjang 9 kabupaten/kota, menewaskan puluhan orang, dan disebabkan kombinasi hujan ekstrem dan ulah manusia (kerusakan hutan, penyempitan DAS, tambang, dll). Sementara di Sumbar, banjir bandang besar melanda Kab. Limapuluh Kota pada September 2020, meski tidak menimbulkan korban jiwa berkat kesiapsiagaan, namun merusak infrastruktur.
Dari tinjauan sejarah tersebut, terlihat pola konsisten, setiap banjir bandang besar di Sumatera selalu dipicu hujan sangat lebat, diperparah oleh kerusakan lingkungan di DAS hulu. La Nina atau siklon tropis bisa membawa hujan ekstrem secara tiba-tiba, dan bentang alam Sumatera yang bergunung-gunung membuat air dari hulu cepat mengalir ke hilir. Bila hutannya utuh, sebagian air hujan bisa diserap atau tertahan. Tapi saat hutan gundul, hujan ekstrem berubah menjadi bencana mematikan. Banjir bandang 2025 di Sumut-Sumbar-Aceh adalah contoh terbaru dari siklus bencana ini. Banjir bandang 2025 mungkin merupakan yang terbesar dalam puluhan tahun terakhir di kawasan tersebut. Hal ini menunjukkan tren bahwa bencana hidrometeorologi cenderung makin parah seiring akumulasi deforestasi dan perubahan iklim.
Bencana ini menjadi pengingat bahwa Sumatera merupakan kawasan rawan bencana hidrometeorologi. Dari Aceh hingga Lampung, kombinasi curah hujan tinggi (karena posisi geografis tropis) dan masifnya pembukaan lahan menjadikan banyak wilayah hotspot banjir. Mitigasi ke depan perlu ditingkatkan dengan pembenahan tata ruang, pengendalian deforestasi, dan kesiapsiagaan masyarakat, agar sejarah kelam banjir bandang tidak terus terulang dan memakan korban di masa mendatang.