Analisis Data Hidrologi DAS

Kemunculan berbagai anomali iklim yang ekstrim telah memperparah kerusakan lingkungan yang berujung pada meningkatnya kejadian bencana, seperti banjir, kekeringan dan longsor lahan. Perubahan cuaca hanya pemicu saja, penyebab utamanya adalah kerusakan lingkungan yang masif akibat penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan frekuensi dan intensitas bencana di Indonesia terus meningkat selama 15 tahun terakhir. Data BNPB menyebutkan dari seluruh kejadian bencana di Indonesia, 38% adalah bencana yang berhubungan dengan kejadian banjir, dan 16% berhubungan dengan kejadian longsor. Kerusakan ekosistem hutan oleh pembalakan liar, kebakaran, dan alih fungsi lahan telah terbukti menjadi pemicu berbagai kejadian bencana hidrologi. Berbagai usaha pemulihan hutan telah dilakukan melalui kegiatan mulai dari reboisasi, rehabilitasi,hingga restorasi ekosistem. Namun demikian, dampak hidrologi masih cukup luas.

Hidrologi hutan merupakan salah satu cabang ilmu kebumian yang mempelajari berbagai permasalahan sumberdaya air yang berhubungan dengan penutupan hutan. Analisis hidrologi dilakukan untuk menerjemahkan perilaku alam dan digunakan untuk perencanaan dan pengelolaan sumberdaya air (water management) serta perancangan pengembangannya. Oleh Karena itu, untuk mendukung pengelolaan sumberdaya air yang tepat diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang konsep dasar hidrologi serta komponen-komponen yang saling terkait dalam proses hidrologi, utamanya yang berkaitan dengan pengaruh penutupan lahannya.
Dalam perdagangan kayu global, tuntutan pasokan kayu dari perusahaan yang bersertifikasi pengelolaan hutan lestari menjadi sebuah kewajiban. Salah satu instrument penting di dalamnya adalah pelaporan kegiatan monitoring dan evaluasi perubahan hidrologi (neraca air). Pada unit-unit bisnis berbasis konsesi penggunaan lahan (IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, perkebunan Sawit dll), pengelolaan air (water management) menjadi aspek penting dalam kelestarian dan kelangsungan proses produksi.  Kawasan gambut dengan karakteristik hidrologi gambut yang spesifik juga perlu mendapat perhatian penting terkait dengan isu-isu kelestarian sumberdaya alam di kawasan gambut. Selain itu, pasar dunia juga telah memfasilitasi peran hutan  tersebut telah banyak berkembang melalui berbagai skema, REDD+ dan Pembayaran Jasa Lingkungan telah banyak diimplementasikan di Indonesia.

Kegiatan monitoring dan evaluasi aspek hidrologi menjadi komponen penting untuk pemenuhan data bagi pengembangan pengelolaan lahan, skema jasa lingkungan dan sertifikasi. Untuk memenuhi kebutuhan data hidrologi tersebut, perlu adanya instrumentasi pendukung yang dilengkapi alat-alat dan tenaga pengamat dan analis data yang handal. Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi staf pengelola data sumberdaya air dalam pengumpulan, pengelolaan, analisis dan interpretasi data hidrologi sehingga dapat menyajikan hasil yang bermanfaat dalam mendukung kelestarian pengelolaan sumberdaya hutan, pengembangan skema pembayaran jasa lingkungan hutan, pemanfaatan sumberdaya air untuk pengembangan energi alternatif melalui mikro-hidro dan berbagai pemanfaatan data hidrologi lainnya.

Tujuan

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam:

  1. Pengumpulan, analisis dan manajemen data-data hidrologi.
  2. Menginterpretasikan data-data hidrologi untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya alam yang spesifik.
  3. Melakukan perencanaan pembangunan stasiun monitoring hidrologi.

Manfaat

Meningkatkan kompetensi peserta dalam pengelolaan dan analisis data hidrologi sehingga dapat dipergunakan untuk perencanaan dan pengelolaan sumberdaya lahan dan hutan, pengembangan jasa lingkungan hutan untuk air, dll.

Waktu Pelatihan

Pelatihan dilaksanakan selama 5 hari pada tanggal 6-10 November 2017.

Unduh Brosur Pelatihan