Adaptasi Cerdas Iklim melalui Agroforestri Kopi Berbasis Pengetahuan Lokal di Hulu DAS Merawu

Perubahan iklim dan dampaknya bukan lagi menjadi ancaman abtrak di masa depan, melainkan telah menjadi realitas sehari-hari yang dirasakan oleh seluruh penduduk dunia. Di Indonesia dan berbagai belahan dunia, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang paling rentan karena petani kecil sangat bergantung pada kondisi musim dan iklim. Cuaca ekstrem, peningkatan suhu, curah hujan yang tidak menentu, dan meningkatnya bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, kekeringan) telah berdampak pada turunnya produktivitas pertanian (Osei dkk., 2023).

Situasi ini telah dialami oleh masyarakat di Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Merawu, Banjarnegara. Sebagai bagian hulu dari DAS Serayu yang merupakan salah satu dari 108 DAS prioritas nasional, kawasan ini memiliki fungsi ekologis penting, yakni menjaga tata air, mengurangi risiko banjir, dan mendukung keberlanjutan ekosistem. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, tekanan terhadap lahan meningkat akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian. Data menunjukkan kerentanan longsor di wilayah Merawu meningkat signifikan dari sedang menjadi tinggi (Satriagasa dkk., 2019). Praktik budidaya yang tidak disertai upaya konservasi tanah dan air dapat memperburuk kondisi ini.

Kopi dan Agroforestri: Warisan Lokal yang Menjadi Solusi

Di tengah tantangan global tersebut, budidaya kopi menjadi salah satu sumber utama penghidupan utama masyarakat di Desa Binangun yang telah dilakukan sejak 1980-an. Jenis kopi yang ditanam masyarakat adalah kopi robusta (Coffea canephora) yang memiliki hasil tahunan relatif stabil. Stabilitas hasil tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor lingkungan, agronomi, dan sosial ekonomi masyarakat (Ma’ruf dkk., 2025). Masyarakat di Desa Binangun telah menerapkan agroforestri berbasis kopi dan pohon penaung serta tanaman lain (crops). Pola agroforestri tersebut merupakan aktivitas konservasi vegetatif yang telah dilakukan secara turun-temurun dan memiliki fungsi ekologis untuk meningkatkan penyerapan karbon, mengurangi erosi, dan mendukung ketahanan lahan (Bai dkk., 2019).

Salah satu konsep yang berppotensi untuk memitigai risiko perubahan iklim sekaligus mengoptimalkan potensi lahan secara ekonomi dan sosial adalah praktik agroforestri cerdas iklim yang dikenal sebagai Climate-Smart Agroforestry (CSAF). CSAF adalah sebuah strategi yang memadukan pertanian dengan prinsip keberlanjutan ekologi, ekonomi, dan sosial. CSAF menekankan pentingnya menjaga produktivitas lahan sekaligus meningkatkan resiliensi petani terhadap perubahan iklim (Ntawuruhunga dkk., 2023). Dengan kata lain, petani tidak hanya berproduksi untuk hari ini, melainkan juga mengelola lahan mereka secara opimum untuk menghadapi tantangan iklim di masa depan. Meskipun praktik ini menjanjikan dan telah dipraktikkan di banyak negara lainnya, penelitian terkait strategi konservasi DAS di DAS Merawu masih terbatas. Khususnya, kajian yang mengeksplorasi persepsi petani kopi skala kecil terhadap perubahan iklim, dampaknya terhadap produktivitas lahan, serta strategi adaptasi iklim berbasis yang diterapkan oleh petani. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini sebagai upaya untuk memperkuat pemahaman terhadap praktik adaptasi iklim lokal melalui agroforestri kopi, khususnya di wilayah hulu DAS Merawu.

Untuk memahami lebih jauh tentang topik ini, dilakukan penelitian di Desa Binangun pada Januari – Mei 2025. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur kepada 30 petani kopi dan dilanjutkan dengan observasi dan ground check lapangan, serta analisis lanjutan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menggabungkan data kuantitatif (seperti produktivitas lahan, luas kepemilikan, dan karakteristik sosial-demografis) dengan data kualitatif (seperti persepsi petani terhadap perubahan iklim dan strategi adaptasi yang mereka pilih). Hasil survei menunjukkan mayoritas responden berusia rata-rata 50 tahun dengan tingkat pendidikan formal sekitar delapan tahun. Meski sebagian besar petani tidak menempuh pendidikan tinggi, pengalaman dan pengetahuan kolektif mereka justru membentuk dasar kuat dalam memahami dinamika lingkungan.

Persepsi Petani terhadap Perubahan Iklim dan Dampaknya

Mayoritas petani kopi (86,7%) telah memahami dengan baik perubahan iklim dan gejalanya. Mereka mampu mengidentifikasi indikator seperti peningkatan suhu, curah hujan tidak menentu, serta munculnya anomali iklim. Pengetahuan ini mereka peroleh melalui kelompok tani, penyuluhan, serta akses informasi dari dinas pertanian. Namun, sekitar 13,3% petani masih memiliki pemahaman yang terbatas. Hal tersebut disebabkan oleh minimnya intensitas pengolahan lahan akibat profesi utama sebagian responden sebagai pedagang, buruh, atau petani sayur sehingga intensitas petani dalam pengolahan lahan agroforestri kopi lebih kecil dibanding sebagian besar petani yang fokus pada lahannya.

Dampak perubahan iklim yang paling banyak dirasakan oleh petani adalah penurunan produktivitas kopi. Penurunan produktvitas tersebut disebabkan oleh gugurnya bunga dan buah oleh akibat penyakit karat daun kopi (Hemileia vastatrix) dan bercak daun (Cercospora coffeicola). Curah hujan tinggi dapat meningkatkan kelembapan dan menciptakan kondisi ideal bagi perkembangan penyakit jamur tersebut (Harni dkk., 2015). Bencana hidrometeorologis seperti longsor dan kekeringan juga semakin sering terjadi. Petani juga menyebutkan kegagalan panen pada tanaman sayur yang dapat mengancam keberlanjutan pasokan pangan serta pendapatan petani.

Strategi Adaptasi: Perpaduan Pengetahuan Lokal dan Teknologi Inovatif

Meski menghadapi tekanan besar, para petani di Desa Binangun tidak tinggal diam. Selama lebih dari 20 tahun, mereka telah mengembangkan strategi adaptasi cerdas iklim berbasis agroforestri. Beberapa praktik adaptif yang telah dipraktikkan antara lain:

  • Agroforestri kopi dan pemeliharaan pohon. Pohon penaung yang awalnya ditanam sebagai tabungan jangka panjang dan pengendali erosi, kini juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kopi dan menyediakan sumber pendapatan tambahan. Jenis pohon penaung yang paling banyak ditemui adalah Sengon (Albizia chinensis) dan Nangka (Artocarpus heterophyllus). Sengon memiliki banyak manfaat baik sebagai kayu perkakas, bahan bakar, dan kemampuan fiksasi nitrogen (legum) sehingga dapat menjadi sumber hara alami bagi kopi. Nangka yang merupakan jenis Multi Purpose Tree Species (MPTS) juga memberikan manfaat ekonomi (kayu dan buah) bagi masyarakat sekaligus sebagai pengontrol erosi.
  • Pemangkasan cabang teerinfeksi penyakit dan perawatan intensif sebagai langkah eradikasi untuk mengurangi penyebaran jamur.
  • Penggunaan bibit unggul dan pupuk organik untuk meningkatkan mutu panen tanpa merusak ekosistem tanah.
  • Penyesuaian jadwal tanam dengan memanfaatkan informasi cuaca dan curah hujan untuk menentukan waktu tanam dan panen yang lebih efisien.
  • Diversifikasi usaha tani dengan beternak untuk menambah pendapatan sekaligus menghasilkan pupuk kandang yang menjaga kesuburan lahan.
  • Praktik organik dalam pemeliharaan tanaman. Menariknya, hanya sebagian kecil petani (3%) yang menggunakan fungisida kimia untuk mengatasi masalah penyakit jamur pada kopi. Mayoritas petani lebih mengandalkan metode fisik dan organik, yang menunjukkan kesadaran tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan.

Adaptasi petani juga tidak lepas dari dukungan kelembagaan. Sejak 2003, mereka rutin mendapatkan pelatihan dari dinas pertanian dan penyuluh lapangan. Topik pelatihan mencakup perbanyakan bibit, pengendalian hama terpadu, pembuatan fungisida organik, hingga pengolahan pascapanen. Transfer pengetahuan ini memperkuat kapasitas petani dan membentuk perilaku adaptif yang lebih terarah. Pelatihan juga mendorong munculnya inovasi lokal, seperti pembuatan pupuk organik cair dari limbah pertanian, atau pemilihan jenis pohon penaung yang tidak hanya melindungi kopi, tetapi juga menyediakan kayu, buah, dan pakan ternak. Dengan cara ini, sistem agroforestri kopi tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga menjadi jaringan pengaman sosial-ekonomi bagi keluarga petani.

Climate Smart Agroforestry sebagai Langkah Cerdas Iklim dan Prospek ke depan

Penelitian ini menegaskan bahwa praktik agroforestri kopi yang mendekati konsep Climate-Smart Agroforestry oleh petani kopi di Hulu DAS Merawu merupakan contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat bersinergi dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Kombinasi pengalaman petani, dukungan kelembagaan, dan penerapan prinsip ekologi modern menjadikan masyarakat lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tuntutan akan perubahan iklim, kesempatan masih terbuka untuk mengembangkan sistem CSAF sebagai model konservasi berbasis masyarakat yang paling ideal dan feasible untuk dipraktikkan di daerah hulu. Dengan dukungan kebijakan, pendampingan teknologi, dan penguatan pasar untuk produk kopi berkelanjutan, strategi konservasi berbasis DAS tidak hanya berperan menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Agroforestri kopi di Binangun menunjukkan bahwa adaptasi iklim bukan sekadar wacana global, melainkan praktik nyata yang lahir dari interaksi langsung petani dengan lingkungannya.

Dari desa kecil di Banjarnegara, hadir sebuah pelajaran penting: keberlanjutan bisa dicapai jika manusia dan alam berjalan beriringan tanpa mengorbankan satu sama lain.

Referensi:

Bai, X., Huang, Y., Ren, W., Coyne, M., Jacinthe, P.-A., Tao, B., Hui, D., Yang, J., & Matocha, C. (2019). Responses of soil carbon sequestration to climate-smart agriculture practices: A meta-analysis. Global Change Biology, 25(8), 2591–2606. https://doi.org/10.1111/gcb.14658

Harni, R., Samsudin, A. W., Indriati, G., Soesanthy, F., Khaerati, T. E., Hasibuan, A. M., & Hapsari, A. D. (2015). Teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Bogor.

Ma’ruf, M. I., Bacsi, Z., Hollósy, Z., Kamaruddin, C. A., & Astuty, S. (2025). Yield Stability of Indonesian Coffee Production-Comparison Between Arabica and Robusta. Coffee Science-ISSN 1984-3909, 20, e202317-e202317.

Ntawuruhunga, D., Ngowi, E. E., Mangi, H. O., Salanga, R. J., & Shikuku, K. M. (2023). Climate-smart agroforestry systems and practices: A systematic review of what works, what doesn’t work, and why. Forest Policy and Economics, 150, 102937. https://doi.org/10.1016/j.forpol.2023.102937

Osei, E., Jafri, S. H., Saleh, A., Gassman, P. W., & Gallego, O. (2023). Simulated climate change impacts on corn and soybean yields in Buchanan County, Iowa. Agriculture13(2), 268.

Satriagasa, M. C., Suryatmojo, H., & Dewi, H. N. (2019). Role of land cover change to landslides susceptibility in agricultural catchment. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 361(1), 012032. https://doi.org/10.1088/1755-1315/361/1/012032