Hutan Bambu sebagai alternatif Konservasi DAS

Saat ini kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia semakin memprihatinkan, banyak DAS yang mengalami penurunan kualitas dengan indikasi luasnya lahan kritis, semakin seringnya banjir, kekeringan, tanah longsor dan pencemaran air yang merugikan kehidupan masyarakat dan lingkungan. Diperkirakan banjir dan kekeringan akan terjadi setiap tahun dengan intensitas yang semakin kuat pula. Menurut data KLHK luas lahan kritis di Indonesia pada Tahun 2015 tanpa Propinsi DKI Jakarta adalah 24.303.294 Ha, yang terdiri dari: lahan kritis 19.564.911 Ha dan sangat kritis 4.738.384 Ha. Luasnya lahan kritis tersebut mengindikasikan adanya penurunan kualitas lingkungan sebagai dampak dari adanya pemanfaatan sumberdaya lahan yang tidak bijaksana dan tidak sesuai dengan aturan yang ada. Lahan yang termasuk didalam kategori lahan kritis akan kehilangan fungsinya sebagai penahan air, pengendali erosi, siklus hara, pengatur iklim mikro dan retensi karbon. Read more

Hutan Rakyat sebagai Pengendalian Daur Air (Seri-3 Diskusi Peran Hutan Rakyat)

Siklus hidrologi merupakan sebuah proses perjalanan air dari permukaan tubuh air di permukaan bumi ke atmosfer dan kemudian jatuh (sebagai hujan, es) ke kembali permukaan daratan dan mengalir kembali lagi ke laut. Suatu DAS memiliki komponen fisik dan biotik yang saling berhubungan. Hubungan antar komponen fisik dan biotik ini akan memengaruhi siklus hidrologi yang ada dalam suatu DAS. Komponen fisik yang ada dalam suatu DAS dapat berupa iklim, morfometri DAS, serta kondisi lingkungan (kelerengan dan jenis tanah). Sedangkan komponen biotik yang juga dapat mempengaruhi siklus hidrologi yaitu manusia serta vegetasi. Komponen biotik ini cenderung lebih rentan untuk mengalami perubahan. Hal ini dapat terjadi akibat adanya peningkatan kebutuhan manusia seperti telah dijelaskan di muka. Perubahan yang terjadi pada setiap faktor dari proses hidrologi akan memengaruhi output DAS (debit aliran, debit suspensi). Siklus hidrologi air tergantung pada proses evaporasi dan presipitasi. Air yang terdapat di permukaan bumi berubah menjadi uap air di lapisan atmosfer melalui proses evaporasi (penguapan); serta proses transpirasi atau penguapan air oleh tanaman (Asdak, 2010). Read more

Sistem Lahan dan Siklus Tata Air (Seri-2 Diskusi Peran Hutan Rakyat)

Sistem lahan di dalam DAS memiliki fungsi yang berbeda-beda tergantung dari posisi lahan. Kawasan paling atas atau hulu DAS, dicirikan dengan wilayah yang memiliki curah hujan tinggi, tingkat kelerengan tinggi (berbukit-bukit), sistem percabangan sungai yang banyak, didominasi oleh penutupan lahan bervegetasi (hutan) memiliki fungsi utama sebagai daerah resapan air hujan. Secara alami, kawasan hulu akan menangkap air hujan melalui vegetasinya, kemudian meresapkan dan menyimpan air hujan dalam sistem air bawah tanahnya. Sistem air bawah tanah inilah yang nanti akan muncul ke permukaan sebagai sumber-sumber mataair. Fungsi penting tersebut menjadi alasan daerah ini sering disebut sebagai daerah produksi, yaitu memproduksi air (dari hujan yang ditangkap), produksi sedimen (erosi alami) dan produksi unsur hara yang tercuci dari permukaan lahan dan masuk dalam aliran sungai. Perubahan penggunaan lahan di kawasan ini akan berimplikasi besar terhadap produksi yang dihasilkan, sehingga kawasan hulu ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap gangguan fungsi hidrologis.
Kawasan tengah DAS, biasanya pada daerah kaki-kaki gunung atau perbukitan sering diistilahkan sebagai daerah transport, yaitu mengalirkan hasil produksi di daerah hulu ke daerah yang lebih rendah. Fungsi tersebut memberikan ciri berupa debit aliran yang tinggi dan berpotensi terjadi erosi/longsor tebing sungai. Perubahan penggunaan lahan yang tidak hati-hati juga berpotensi meningkatkan “produksi” limpasan permukaan, erosi dan polutan ke badan sungai. Read more

Penataan Penggunaan Lahan (Seri-1 Diskusi Peran Hutan Rakyat)

Secara lebih ilmiah, lahan diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas tanah, relief, iklim, air dan vegetasi serta benda-benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan itu. Termasuk pula di dalamnya hasil kegiatan manusia di masa lalu dan sekarang seperti reklamasi laut, pembersihan vegetasi, dan juga hasil yang merugikan seperti tanah yang tersalinisasi (FAO, 1976 dalam Arsyad, 1989). Sitorus (2001) mendefinsikan sumberdaya lahan (land resources) sebagai lingkungan fisik terdiri dari iklim, relief, tanah, air danvegetasi serta benda yang ada di atasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Oleh karena itu sumberdaya lahan dapat dikatakan sebagai ekosistem karena adanya hubungan yang dinamis antara organisme yang ada di atas lahan tersebut dengan lingkungannya (Mather, 1986).
Penggunaan lahan adalah hasil usaha manusia dalam mengelola sumber daya yang tersedia untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Pemanfaatan sumber daya lahan hendaknya mempertimbangkan fungsi-fungsi lahan, yaitu 1) lahan sebagai tempat tinggal dan aktivitas manusia, (2) lahan sebagai habitat keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, dan (3) lahan pendukung kebutuhan hidup manusia melalui potensi sumberdaya air, tanah dan mineral didalamnya. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang tertulis: pemanfaatan ruang meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, kawasan lindung serta kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. Sedangkan kawasan budidaya merupakan kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan. Meskipun dalam penataan kawasan sudah membagi habis seluruh permukaan daratan sesuai fungsi-fungsinya, namun seringkali dijumpai pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan fungsinya. Pada pengelolaan lahan sering terjadi adanya benturan kepentingan antara pihak-pihak pengguna lahan atau sektor-sektor pembangunan yang memerlukan lahan. Hal ini seringkali mengakibatkan penggunaan lahan kurang sesuai dengan kemampuannya. Pemanfaatan lahan yang tidak sesuai fungsi akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem dan lingkungan seperti neraca air, neraca hara dan neraca erosi. Akibat lanjutnya adalah kemunculan degradasi lahan dan berbagai bencana seperti kekeringan, banjir hingga longsor lahan. Read more

Bencana Longsor dan Aliran Debris di Banaran, Ponorogo

Kali ini menimpa Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo pada tanggal 1 April 2017 menyebabkan 28 warga hilang (tiga sudah ditemukan dalam keadaan meninggal), 200 warga kehilangan tempat tinggal dan ladang, dan 19 orang mengalami luka ringan (Radar Ponorogo, 3 April 2017).

Menurut informasi yang diperoleh dari BPBD di posko induk, kronologis kejadian longsor sudah mulai terlihat pada tanggal 11 Maret 2017 yaitu adanya retakan kurang lebih 30 cm di bagian atas bukit. Kemudian pada tanggal 17 Maret 2017 retakan tebing tersebut menjadi lebih panjang dan luas yaitu sekitar 9 meter. Pada tanggal 26 Maret 2017 retakan tersebut meluas menjadi 15 meter, dan terakhir pada tanggal 31 Maret 2017 retakan tanah sudah bertambah menjadi 20 meter akibat akumulasi hujan yang terjadi beberapa hari sebelumnya meskipun dengan intensitas yang rendah. Tercatat tanggal 25 Maret (21,7 mm); 26 Maret (6,1 mm); 27 Maret (6,2 mm); 28 Maret (0,1 mm) dan 29 Maret (1,1 mm) (PTRRB, BPPT).

Sebenarnya sejak tanggal 26 Maret 2017 warga sudah mulai mengungsi ketika retakan sudah mencapai 15 meter. Setiap malam, warga mengungsi ke lokasi-lokasi pengungsian yang disiapkan oleh desa, namun ketika pagi hari mereka kembali ke tempat tinggal mereka untuk beraktifitas seperti biasa (memberi makan ternak, mengolah lahan, dsb). Bahkan ketika longsor terjadi sebagian besar warga kembali ke lahan mereka untuk memanen jahe.

Read more